Pion Baru Negeri Catur

Oleh: Syahrul Ramadhan

Jika sebuah pion berhasil mencapai ujung papan catur di sisi lain, maka dia bisa dipromosikan menjadi buah catur apapun kecuai raja.
Selamat datang di negeri catur.
Di sini kamu bisa melihat semua petak tanah berbentuk persegi hitam putih. Hitunglah, akan kamu temui warna hitam sebanyak warna putih. Jangan berharap kamu bisa membentuk petak baru agar jumlah mereka tidak sama. Tidak ada ketimpangan petak di sini.
Di sini kamu harus memilih ingin menjadi pasukan hitam atau putih. Tidak ada yang jahat atau baik di antara dua warna itu. Kamu hanya harus memilih. Itulah peraturan di negeri ini.
“Aku memilih menjadi pasukan putih”, katamu. “Di duniaku warna putih mencerminkan kebaikan. Sedangkan warna hitam mencerminkan kejahatan”. Terserah, kamu hanya harus memilih.
“Jika aku menempati petak putih, apakah aku tidak bisa menginjakkan kaki di petak hitam?”, kamu bertanya. Tentu saja bisa. Kamu adalah pion di sini. Hanya empat orang menteri saja yang terikat dengan batasan menginjak petak hitam atau putih, dua orang di hitam dan dua orang di putih. Tengoklah ke arah belakang, itu adalah dua orang dari keempat menteri.
Kamu mengangguk-angguk mengamati mereka. “Kasihan ya mereka. Mereka tidak bisa merasakan kedua petak di sini”. Berhenti, hentikan pikiranmu! Jangan menggunakan logika polosmu di negeri ini. Kamu adalah pendatang baru yang belum mengetahui banyak hal di sini. Pelajarilah dulu sebelum mengatakan hal semacam itu.
Cling, cling! Sepasang ksatria saling mengadu pedang. Salah seorang telah terkena tebasan di lengan kirinya. Kuda mereka telah terkapar di tanah. “Hentikan! Jangan saling membunuh!”, kamu berteriak. Mereka berhenti seketika. Pandangan mereka di arahkan padamu. “Hahaha”, mereka tertawa terkekeh-kekeh. Lalu mereka saling berpelukan dan meninggalkan tempat sembari menyeret kuda mereka. Masing-masing berjalan ke arah yang berbeda.
Kamu memandangku erat-erat, berharap aku memberi penjelasan. Memang telah menjadi tugasku sebagai seorang ratu untuk mengarahkan pendatang baru sepertimu. Tapi aku tidak bisa menahan tawa. Aku tertawa tebahak-bahak melihat ekspresimu. Maafkan aku, aku tidak bermaksud meremehkanmu.
“Apa yang terjadi dengan negeri ini? Mengapa kamu tidak menghentikan mereka? Kamu kan seorang ratu?!”, mukamu merah tanda marah. Tawaku berhenti. Tidak, aku tidak marah denganmu. Aku bisa mengerti jika perkelahian di negeri lamamu adalah hal kotor dan harus dicegah, apalagi perkelahian yang menyebabkan nyawa melayang.
****
Kriiiing, bel berbunyi. Semua peserta telah siap menempuh ujian terakhir, sebuah ujian promosi bagi para pion. Kamu duduk di bangku paling depan. Bersama dengan para pion yang telah tuntas mengelilingi negeri catur ini selama tiga bulan, kamu memulai mencoretkan pensil yang ada di tanganmu. Kalian semua telah membekali diri selama berkeliling hingga berhasil mencapai ujung negeri, tempat para petinggi sisi lain.
“Kalian mempunyai waktu sepuluh hari untuk menyelesaikan semua ujian ini. Sekarang adalah hari terakhir. Tolong maksimalkan waktu yang kalian miliki. Ketika matahari terbenam kalian akan melihat hasil dari ujian ini”, sang pengarah memberikan ulasan.
Pertanyaan demi pertanyaan telah kamu jawab. Tibalah pertanyaan terakhir: “Apakah semua perbuatan yang telah kamu lakukan selama ujian selaras dengan hati nuranimu?”. Kamu terdiam. Pensilmu terjatuh. Keringat dingin bercucuran dari dahi dan lehermu.
****
“Silahkan berbaris yang rapi para pion, kami akan mengumumkan hasil ujian”, sang raja berkata.
“11.520!”, nomor peserta dipanggil. Seorang pion kurus maju ke tepi tebing. “Maaf, kamu gagal menjadi pengganti ratu”, kata sang raja. Dor! Pistol ditembakkan ke kepalanya. Dia terhempas jatuh ke jurang.
“Kesalahan peserta: 1) Menginginkan kesetaraan petak untuk menteri, 2) Menginginkan pergantian adu pedang dengan perundingan antar kesatria, 3) Menyatakan bahwa saling bunuh antar peserta dalam ujian adalah kesalahan dan tidak sesuai dengan hati nuraninya”. Semua menyimak dengan seksama proses pengumuman hasil ujian.
“Sungguh bodoh. Apa yang dia pikirkan sehingga dia menjawab pertanyaan ujian dengan jawaban seperti itu?”, kamu menggumam. Kamu menghela nafas dan mengingat-ingat apa yang telah kamu tulis di lembaran kertas ujian saat itu:
“Wahai raja dan petinggi negeri catur. Akulah sang pion yang telah mendapat pengarahan dari sang ratu sesuai peraturan. Aku telah menghapus dan memperbarui logika berpikirku yang lama. Akulah pion yang tercerahkan!
Ini adalah negeri catur. Negeri yang mempunyai peraturan sederhana. Siapa yang tinggal di dalamnya harus mengikuti peraturan, tidak peduli sang menteri, sang ratu, maupun sang raja. Peraturan negeri ini adalah mutlak. Jika ada pion baru yang hendak mengubah peraturan negeri ini, maka dia harus disingkirkan, dilenyapkan.
Sang menteri adalah lambang keterbatasan. Keruncingannya yang anggun tidak boleh menjadikannya lupa akan batasan diri. Dia harus terbatas pada petak hitam atau putih. Dialah sang terbatas.
Sang ksatria adalah lambang pengorbanan. Keliarannya yang dahsyat harus dikorbankan sebagai pengingat. Dia tidak boleh terlena. Dia harus berkorban untuk peraturan. Dia harus saling tikam demi menjalankan peraturan. Dialah sang korban.
Lalu para pion dalam ujian, jangankan saling bunuh, saling memakan antar sesama pun harus dilakukan jika itu adalah peraturan.
Apakah aku tidak mempunyai hati nurani? Aku punya. Dan hati nuraniku berkata, “Aku adalah milik Sang Peraturan!”.

*Ditulis di Mahbaz Jin, Makkah, Saudi Arabia

**Pernah dimuat di Maha Media edisi 34 – Majalah kampus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Jombang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s