Lonceng

lo

Oleh: Ilmi Safrizal

Dengung lonceng itu semakin membuatku lemah. Gelombangnya yang liar kembali menerorku. Menerobos memasuki daun telinga, menyebar keseluruh rongga yang ada, menyerang pangkal otak untuk kemudian diganggunya. Ingin rasanya aku memecahkan kepalaku karenanya. Kubungkam kiri-kanan daun telingaku dengan kedua tangan. Kutekan sekuat-kuatnya agar tidak terserap gelombang itu oleh telingaku. Semakin kulawan gelombang itu, semakin gila ia menguasaiku. Sontak aku terpental, terpelanting, terguling-guling, bangkit dan terangkat lagi, berputar-putar, sempoyongan, akhirnya aku jatuh, roboh. Badanku lemas luar biasa. Aku ingin berteriak, tetapi dengung lonceng lebih dulu membungkam mulutku. Semakin dalam ia merasuk kedalam tubuhku. Aku semakin lemah tak berdaya. Aku sedang dalam kengerian.

***

Mataku tersingkap. Gema lonceng yang perlahan lenyap digantikan oleh gelap-pekatnya ruang dimana aku kembali terjaga. Aku sadar aku sedang berada dimana, ruangan itu terlalu gelap untuk aku dapat menggambarkannya. Kedua mataku hanya mampu menggapai sebuah meja dihadapanku, aku terduduk diatas sebuah kursi. Dimeja itu terdapat sebuah kotak hijau yang dipenuhi motif bunga matahari pada setiap sisinya. Sebuah kotak plastik bekal makanan yang tidak ada istimewanya, hampir semua anak seusiaku memilikinya. Kotak itu sedang menatapku. Menatap tajam meusuk dua bola mataku. Ayahku membuatku membawa kotak itu kemanapun aku pergi. Aku tidak pernah ingin membukanya, aku hanya tetap membawanya. Aku tidak mau merasakan lagi kepalan tangannya. Dengung lonceng dan tangannya adalah dua hal yang mengantarkanku tumbuh dewasa.

Belum ada siapa-siapa bersamaku, terkurung oleh gelapnya ruangan itu. Hanya ada aku dan kotak hijau-kuning bunga matahari bekal dari ayahku. Pikiranku sama sekali kosong. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tidak keinginan yang harus kuwujudkan, tidak ada hasrat untuk kulampiaskan. Benakku tidak sanggup memikirkan apa yang ingin aku pikirkan. Dengung lonceng itu benar-benar merusak fungsi organku. Gelap ruang itu tidak hanya membatasi jarak pandanganku. Sedikit banyak gerakanku telah dikendalikan olehnya. Dengan irama dan melodi indah luar biasa, dengung lonceng membuatku tak bisa mengelak bahwa aku telah berada dalam pengaruhnya. Aku tenggelam dalam harmoni gelap pekatnya. Aku dibuai simfoni hitam kelamnya.

Jari-jari tanganku mengikuti irama kegelapan ruang itu. Aku berusaha menentangnya, namun tanganku terhanyut dalam syahdunya kegelapan, menari-nari oleh melodi kehampaan. Tanganku dengan sendirinya tertarik untuk membuka kotak hijau-kuning bunga matahari yang menatapkuku. Bukan oleh kuasaku, kotak itu dibuka oleh tanganku. Aku tak pernah ingin membukanya, aku tak pernah ingin tahu ada apa didalamnya. Tetapi itulah yang setiap hari aku lakukan. Aku selalu membukanya.

Kukeluarkan isi kotak hijau-kuning bunga matahari. Kubuka perlahan pembalut yang membungkusnya, kemudian kutebar benda-benda yang dibungkus pembalut tersebut di atas permukaan meja. Selanjutnya kususun rapi berbaris satu jajar kearah kanan. Aku tak mengerti apa yang sedang aku lakukan, tetapi tetap aku melakukannya.

***

Jarum pendek sudah barada dibagian paling atas, kurasa kegerian ini akan segera usai. Namun semakin lama aku menunggu, maka semakin lama pula berakhir. Kudengar suara langkah kaki seseorang. Suaranya semakin mendekat. Terdengar sepertinya ia menyeret kakinya, suara langkahnya semakin jelas. Pintu terbuka. Seorang lelaki bongkok tampak olehku. Dengan mengempit sejenis briefcase diantara pinggang dan lengan kirinya, dan alat bantu penyangga badan pada lengan kanannya, ia melangkahkan kakinya mendekatiku. Kurasa aku mengenalinya, kini matanya berada tepat didepan mataku. Aku sama sekali tidak takut, dia bukan seseorang yang asing bagiku. Ia selalu membawa bongkahan cahaya bersamanya. Tubuhnya tersinari. Dia pernah berkata bahwa dirinya adalah harapan. Diatas alisnya yang sudah memutih, terlihat jelas kerutan dahi lelaki bongkok itu. Nampak pucat pasi wajahnya. Badannya terlihat lemas menopang. Mungkin dengungan lonceng tadi juga dirasakan olehnya. Syukurlah bukan hanya aku yang merasakannya. Terkutuklah aku bahwa aku berharap orang lain juga ikut merasakan kengerian itu. Aku hanya tak sanggup menghadapi kengerian itu seorang diri.

Lelaki bongkok berpaling dariku, berjalan menghampiri sesuatu yang putih, suci kurasa. Bongkahan cahaya ada bersamanya. Ia mengarahkan alat penyangga tubuhnya ke arah yang putih. Perlahan mulai nampak pada pada yang putih, beberapa baris kalimat. Itu adalah barisan kalimat yang sama, ditulis berulang ulang. Aku hanyut dalam pengaruh alatnya, aku membaca alat penyangga badan milik lelaki bongkok. Sebelum alatnya menunjuk sudut papan, ia melepasnya, jatuh. Dia terdiam, duduk, menundukan kepala, mata terpejam, dia di dalam gelap. Lelaki bongkok itu melepaskan sepatunya, kemudian kemejanya, ikat pinggang, serta celananya. Dia menjatuhkan bebanya. Dia lalu merogoh briefcase-nya, mengeluarkan baju tidur dan celana, kemudian dikenakanlah kedua-duanya. Dia mulai mengemas cahaya.

Ia merapikan baju tidurnya, membersihkan debu-debu yang menunggu kapan ia siap mengenakan baju tidurnya. Dia memaksa mengayunkan kakinya untuk meninggalkanku. Aku tahu dia tidak mau meninggalkanku, maka aku kemudian mengikutinya, tanpa sedikitpun lelaki bongkok itu tahu, aku berjarak sepuluh langkah dibelakangnya. Langkahnya terhenti dihadapan sebuah lonceng. Sebuah lonceng berwarna karat yang menggantung pada langit. Apakah dia yang selama ini menerorku? Apakah dia yang membuatku membuka kotak hijau-kuning bunga matahari bekal dari ayahku? Inikah sumber segala kengerian yang aku dan mungkin lelaki bongkok itu juga rasakan?

Lelaki bongkok itu terus memelas, memohon, layaknya meminta sesuatu yang sukar dikabulkan oleh lonceng. Kini semakin khusyu’ dia memelas. Ditekuk kedua lututnya, ditadahkan kedua tangannya, setengah bersujud ia dihadapan lonceng. Semakin dalam ia memohon. Dia sedang dalam jeratan serat-serat emosi. Dia terperangkap dalam ke-khusyu’an-nya. Dia tidak kuat menahan, luap sudah tangisnya, tidak diindahkan oleh lonceng. Hingga sampai kemudian datanglah sesosok wanita serba putih menghampiri lelaki bongkok. Pakaian wanita itu putih, selendangnya putih, kerudungnya putih, wajahnya pun putih. Apa saja yang dia kenakan, semuanya berwarna putih. Wanita itu menyerahkan sebuah peti tua, kecil bentuknya, sama ukurannya dengan koper yang dibawa oleh lelaki bongkok. Atau mungkin, kotak itu memanglah milik lelaki bongkok? Wanita itu pergi, sepertinya hanya itulah tugasnya. Dia pergi untuk yang kesekian kalinya.

Dibuka perlahan peti itu oleh lelaki bongkok. Peti itu penuh dengan roti tawar didalamnya. Hanya roti tawar yang memenuhi peti tersebut. Warnanya putih, kering, dan seratnya padat. Satu-persatu diambilnya roti tawar itu, dimasukkanya kedalam mulutnya, hingga penuh, sesak dengan roti tawar didalam mulutnya. Ia tersedak, tercekik oleh roti tawar pemberian wanita putih. Batuk-batuklah dia, sekarang mual, batuk lagi. Matanta merah. Perlahan keluar air matanya. Aku rasa, ingin sepertrinya dia memuntahkan segala asanya, tapi siapa yang mau mendengar muntahannya? Menjijikkan! Dia tidak sedia memutahkan isi mulutnya. Dia memilih untuk pergi. Lelaki bongkok itu tidak akan kembali.

***

Sungguh mengerikan apa yang telah aku saksikan. Tapi aku tahu kalau kejadian ini sudah terjadi berulang ulang, dan akan terus terjadi berulang-ulang. Mungkin memang sudah waktunya lelaki bongkok itu tertidur. Ketakutanku memaksaku untuk menghampirinya. Aku duduk disampingnya, kupejamkan matanya. Aku sadar bahwa aku akan menggantikannya, harus menggantikannya lebih tepatnya. Apa yang dia alami, pasti akan aku alami juga. Apa yang ia rasakan, pasti aku akan merasakanya. Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi aku tidak tahu dengan cara apa. Persetan dengan semuanya, semuanya adalah setan yang mengerikan. Aku harus keluar dari lingkaran setan ini.

Kuhampiri peti yang membunuhnya. Aku bertanya padanya bagaimana aku dapat mengakhiri kengerian ini. Peti itu menjawab dengan sebuah tabung kimia yang disembunyikan dibawah tumpukan roti tawar. Aku mengerti sekarang, dan harus kulakukan. Kuambil tabung itu, dan kusemprotkan rata menutupi mukaku. Sakit sekali, benar-benar sakit rasanya. Kucoba meraih kaki lonceng, berharap ia berpihak padaku, bersedia untuk segera mengakhiri kengerian ini. Selembar kebahagiaan yang aku tunggu dan sekotak kebebasan yang aku nanti. Kuharap lonceng segera membebaskanku. Tetapi tidak, aku tak dapat lagi menunggunya. Aku telah pergi mengikuti lelaki bongkok itu sebelum lonceng bahkan mendengung. Kini aku sedang menunggu untuk terbangun kembali kembali.

 

 

* Telah diadaptasi dan dipertunjukkan sebagai sebuah pementasa teater dengan judul yang sama pada tanggal 6 Januari 2016 di Gedung Aphiteather Universitas Pendidikan Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s