Suatu Kesimpulan

Oleh: Arif Furqon

Saya sudah lama tinggal di Desa Gulungtikar, hampir genap dua puluh lima tahun. Setelah menikah saya langsung sesegera mungkin boyongan ke desa ini. Bukan karena rumah orang tua atau mertua terlalu sempit untuk menampung kami. Selain karena di desa ini lah saya mengabdi sebagai guru, juga untuk menghindari lunturnya keharmonisan silaturrahim antara anak dan orang tua, menantu dan mertua. Banyak kisah saya dapatkan dari teman sebaya yang lebih dulu menikah, bahwa hidup seolah menjadi sangat sumpek dan penuh beban jika setelah menikah kita masih numpang di rumah orang tua. Tidak ada maksud untuk menuduh orang tua atau mertua saya memiliki kecenderungan untuk menyumpekkan dan membebani kehidupan rumah tangga kami, ya bisa dibilang antisipasi. Tentu sebulan atau beberapa minggu sekali berkunjung ke rumah beliau-beliau akan menyehatkan silaturrahim yang telah terjalin.

Belasan tahun saya telah menjadi guru di SMAN 4 Rugibesar, banyak pula pemuda-pemuda bangsa yang tak lain merupakan anak didik saya telah berkarya dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Tidak ada niatan untuk sombong, tapi banyak dari mereka yang berhasil menjadi “orang”. Alhamdulillah, mereka masih saja mengingat saya dengan minimal sesekali menghubungi saya atau bahkan berkunjung ke rumah. Senang dan bangga rasanya mengetahui anak-anak didik saya sudah dewasa dan sukses. Meski sebagian dari mereka saya ketahui juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalani kehidupannya, mereka yang terakhir ini juga masih sempat saja meminta nasehat dan bantuan saya. Sungguh senang rasanya bisa terus membimbing mereka. Meski hanya guru mata pelajaran bahasa daerah, mereka tidak melupakan saya.

****

Pernah suatu ketika saya diundang untuk membuka acara reunian anak-anak didik saya. Tepatnya alumni SMAN 4 Rugibesar angkatan tahun 1992-1994. Sangat banyak yang hadir dan acara tersebut cukup meriah. Reuni tersebut diadakan di Aula dalam kompleks pesantren yang pengasuhnya ialah salah satu alumni angkatan tersebut. Tak lupa masing-masing membawa suami, istri dan bahkan anak-anaknya. Sehabis membuka acara saya diculik untuk menemani beberapa dari mereka bercengkrama di salah satu gazebo yang berada di taman. Karena letaknya agak jauh dari aula tempat acara reuni dilakukan, terjadi perbincangan yang sangat santai dan kondusif di situ. Awalnya dialog yang terjadi hanya membahas perihal kesibukan dan kisah-kisah lucu yang dialami masing-masing dari mereka. Beberapa kali mereka tertawa terpingkal-pingkal saat membahas kenakalan mereka sewaktu masih sekolah SMA dulu. Tak jarang mereka melibatkanku dengan mengenang peranku sebagai aktor utama yang menggagalkan kenakalan mereka itu.

“Masih ingatkah kalian kenapa pagar di belakang sekolah kita disebut dengan Pintu Goa?” pancing Mu’idz mengenang kenakalan teman-temannya.

“Pasti karena tren bacaan filsafat!” sahut Mudzill yang sedari tadi sibuk menghias batang rokoknya dengan lethek.

“Tidak memahami dualismenya Plato menjadi kutukan tersendiri. Untung saja ada Matin yang rutin mengadakan kelas filsafat serta menulis hasil diskusinya di mading, hehe.” Baasith yang sedari tadi cengengesan mulai terlihat semangat bernostalgia.

“Tapi kang Baasith pula yang menyebarkan virus cinta filsafat itu dengan pentas drama Manusia Goa kan?” Mudzill menimpali, seolah tak rela sahabat karibnya itu merendahkan dirinya.

“Sekarang di sekolah masih gemar baca-baca buku filsafat pak?” tanya Mu’idz pada saya yang sepertinya sungkan telah mengabaikan saya dalam dialog nostalgia tersebut.

Saya sebenarnya malu kepada diri saya sendiri dan mereka yang mulai menatap saya dengan mimik penasaran. Toh saat ini kebanyakan anak didik saya sibuk dengan gawai dan dunia virtualnya masing-masing. “Kalau kalian kangen, sesekali mampir ke sekolah juga bisa kok le.” Saya jawab dengan cara diplomatis seraya berharap mereka tidak mendesak saya untuk menjawabnya. Ternyata berhasil. Mereka mengangguk-angguk dan mengiyakan anjuran saya tersebut. Tak lupa Baasith mempersilahkan saya menyantap jajan-jajan yang telah disuguhkan.

“Teman-teman, HTI katanya bakal dibubarkan pemerintah.” Qohhar, salah satu anak didik saya yang menadi seorang polisi langsung membuka obrolan baru setelah dari tadi sibuk menutul-tutul hapenya.

“Ah, yang bener?” lagi-lagi Mudzill menyahuti sembari mengihisap rokok hasil modifikasinya tadi.

“Mana mungkin saya bohong kang. Ini saya dapat informasi dari atasan saya. Pastilah bisa dipercaya!” ucap Qohhar dengan yakin.

“Tapi kok baru dibubarkan sekarang ya? Padahal momentumnya kan lagi panas-panasnya isu agama bergema di negeri ini?” Baasith terlihat tertarik untuk mengikuti perbincangan. “Bukannya kemungkinan disintegrasi bangsa akan semakin tinggi? Ah entahlah apa yang dipikirkan orang sana” imbuhnya.

“Bukan masalah momentum Bas, hal ini terjadi justru demi integrasi bangsa. Demi keutuhan NKRI!” Qohhar berusaha meluruskan persepsi kawan-kawannya sesuai sudut pandangnya. “Terserah lah kalau orang berteriak pemerintah tak adil, pemerintah seenaknya, pemerintah disetir, bla bla bla. Toh organisasi ini juga seenaknya menyuarakan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.” Tambahnya untuk mempertegas.

Mu’idz yang duduk bersila di samping Qohhar merangkul pundaknya sambil menunjuk teko yang ada di depannya, “Kopinya diminum dulu Har, tak ambilkan tha?” ucapnya untuk menenangkan suasana kembali. Qohhar mengangguk dan tersenyum kepada teman yang ia hormati itu. Qohhar menuangkan sendiri kopi itu, untuk dirinya segelas dan tiga gelas lain untuk teman-temanya yang lain.

“Paling-paling bos-bos negara yang hidup nyaman itu gusar kalau-kalau HTI bisa lebih masif lagi dan mengguncang ketenangan kahyangan mereka, hahaha.” Celetuk Mudzill ketus. Baasith yang sedang nyeruput kopi hampir tersedak karena kesulitan menahan tawa. Dua anak didik saya ini memang terkenal paling kritis dan usil pemikirannya. Dulu, tak jarang guru-guru dibuatnya geleng-geleng dan nggeremeng sehabis ditelanjangi pengetahuannya oleh mereka. Sampai sekarang pun mereka masih konsisten dengan slogan Anti Kemapanan yang mereka agungkan sejak dulu. Baasith yang seorang aktivis agraria dan Mudzill yang seorang wartawan di salah satu surat kabar nasional menjadi kombinasi yang pas.

“Sudah, sudah. Toh kita semua paham kalau ini merupakan urusan politik. Kita berdebat di sini pun tidak bakal mengubah apapun.” Mu’idz ingin mengakhiri perbincangan yang rawan peredebatan tersebut.

“Ya yang begini nih yang bikin bangsa ini diam di tempat. Gak maju maju.” Mulut usil Mudzill berganti menyerang Mu’idz.

“Maksudnya apa kang? Sampean jangan bikin keruh suasana ya!” Qohhar tak rela kawannya diterjang kalimat yang merendahkan seperti itu. Sebentar ia memandang ke arah saya. Mungkin ingin memastikan saya berada di pihak mana. Saya hanya tersenyum kepada mereka sambil mengepulkan asap rokok yang telah berhasil menjelajahi paru-paru tua ini.

“Lah wong diskusinya lagi seru, eh kok malah mau dipotong dan diakhiri. Apa alasannya? Gak bakal merubah apapun? Minimal kalau diskusi kita tuntaskan, kita bisa mengerti sikap yang perlu kita ambil atas isu ini. Kalau bisa kita bongkar sampai keakar-akarnya! Masak permasalahan kayak gini malah direduksi hanya seolah persoalan politik. Yang kritis dong jadi orang, jangan semakin tua daya juang semakin redup. Kalau kaki dan tangan lumpuh sehingga tidak bisa berjuang di lapangan. Mulut dan otak jangan berhenti bekerja. Pikir itu semua dengan kritis, sampaikan dan diskusikan dengan orang lain yang mungkin lebih kritis memahaminya atau bahkan lebih mampu berjuang di lapangan langsung. Kita ini belum tua-tua amat. Tapi langkah kita sudah tertatih-tatih, dan dengan manjanya ingin diramut yang lebih muda.” Mudzill tak bisa menahan keinginannya untuk melibas habis benih-benih kemapanan. Qohhar terdiam dan malu tidak bisa membela teman karibnya lagi. Dia paham betul kalau bersilat lidah dengan Mudzill hanya kalah ujung-ujungnya. Mungkin yang terlintas dipikirannya ia tidak ingin disebut ulo marani gepuk.

“Saya punya banyak teman HTI yang juga aktif memperjuangkan hak-hak agraria rakyat di hadapan kekejaman korporasi kapitalis. Meski saya juga tidak bisa menerima ide khilafah yang menurut saya terlalu utopis, saya menyayangkan langkah yang diambil pemerintah. HTI itu bukan organisasi eksklusif-elitis yang kalau dibubarkan oleh pemerintah langsung tumbang. Ia lebih bersifat inklusif-ideologis, kedekatannya dengan grassroot sangat kuat. Meski penolakan di berbagai pihak juga tak kalah kuat.” Terang Baasith agar ajakan Mudzill untuk berdiskusi tidak diabaikan dan membuat temannya itu semakin kecewa.

“Lah toh kamu juga mengakui kalau terjadi pertentangan dalam masyarakat yang cukup besar. Kan bahaya kalau-kalau sampai terjadi konflik fisik? Selain bertentangan dengan pancasila, HTI juga meresahkan masyarakat. Gesekan yang terjadi juga terjadi di grassroot. Kan cukup bijak jika pemerintah mengambil langkah demikian.” Serang Qohhar yang merasa menemukan celah argumentasi Baasith.

“Loh kok langsung klaim langkah pemerintah sebagai sesuatu yang bijak? Ya malah kemungkinan terjadi konflik fisik semakin besar toh kalau pemerintah mengambil langkah seperti ini. Sampean ingat Operasi Naga Hijau? Mereka yang ijo royo-royo itu bisa jadi bermutasi menjadi naga lagi, terlebih jika merasa mendapat legitimasi. Haha jangan lupakan sejarah Har!” seru Mudzill yang merasa nalar Qohhar semakin pendek sumbunya. Ingin segera menyulut sumbu pendek itu dan membuatnya meledak, Mudzill menambahkan dengan meledek, “Kamu terlalu sering menuruti perintah atasan, hidup terlalu banyak diatur, lupa kebebasan! Sungguh malang nasibmu Har.” Baasith lagi-lagi tertawa, kali ini ia tak lagi menahan tawanya.

“Tak perlu lah kita sampai-sampai saling meledek dan mencaci atas perkara yang rawan skenario. Saya bilang ini urusan politik bukan berarti saya membatasinya seraya memalingkan wajah dari realitas lainnya. Kita toh tak benar-benar tahu konfigurasi dan konstelasi politik negara kita ini yang sudah demikian kalutnya. Kamu boleh ejek aku yang menyebabkan bangsa ini diam di tempat. Toh sedari awal bangsa ini telah kehilangan jati dirinya. Watak ngeyel dan sekarepanmu lah yang bakal menjerumuskan bangsa ini ke arah kehancuran. Nilai luhur bangsamu sudah kamu ganti rumus-rumus berpikir liberal yang kebablas bebas. Silahkan berpikir liberal, selama kamu masih mau menghormati gagasan orang lain. Toh kalau kamu sadar, kamu tak pernah mau mengalah. Orientasimu banyak kesisipan duri-duri ego kemenangan.” Mu’idz yang sedari tadi diam saja setelah diolok-olok Mudzill mulai berbicara panjang lebar. “Kamu jadi terlalu pongah Dzill, aku diam saja bukan karena aku goblog dan tak berdaya di hadapan retorikamu! Aku hanya sungkan sama guru kita. Beliau agaknya lebih paham dan bisa bersikap arif terhadap masalah ini, kenapa kita tidak tanya pendapat belau saja? Tentu kamu tidak rela kesempatan manggung dan pamer pengetahuanmu dicancel kan?” Mu’idz lagi-lagi ingin melibatkan saya.

Mudzill terlihat kaget sekaligus geram dibantai seperti itu oleh Mu’idz yang mereka kenal sebagai orang yang kalem. Sebelum Mudzill memulai ronde baru perdebatan, saya merasa perlu untuk ikut bersuara. “Semoga kalian puas dengan pendapat saya sebagai teman belajar kalian dulu. Saya ini sudah tua dan telah lama terhindar dari diskusi kritis semacam ini, saya sungguh senang kalian masih memiliki semangat sebagai pemuda (semoga bisa mengambil simpati Mudzill). Bahkan saya yakin pengetahuan kalian semua jauh melampaui saya (semoga bisa membesarkan hati mereka semua).” Ternyata maksud saya tersampaikan, mereka mulai membenarkan posisi duduk masing-masing. Dengan tenang menyimak apa yang saya sampaikan. Saya jadi terharu, mengingat betapa mereka saya sayangi sebagai anak didik saya. Saya akui bahwa dari mereka juga lah saya banyak belajar.

Lanjut saya, “Setahu saya perbedaan itu bukan untuk diperselisihkan. Sering kita mendengar bahwa perbedaan ialah rahmat. Kita harus punya hati yang lapang untuk memahami realitas dunia sebagai upaya kita menempuh perjalanan panjang mencari ridha Allah. Kita harus menyadari bahwa di dunia ini sangat banyak orang yang ingin menang sendiri, maka ingatlah kalian bahwa kemenangan yang sesungguhnya ialah mampu menahan hawa nafsu. Kita tidak bisa memungkiri bahwa di dunia ini tidak sedikit orang yang berpikiran sempit nan pendek, maka jangan sekali-kali menyalahkan mereka, tapi bantulah mereka untuk terbiasa memaksimalkan nikmat akal yang mereka miliki. Kita juga tidak bisa mengelak jika di dunia ini banyak orang pandai yang tidak bijak, atau hanya diam melihat kemungkaran, dengan dalih menghindarkan diri dari kekeruhan agar tidak ikut memperkeruh situasi. Maka kalian harus senantiasa melatih hati dan kepekaan kalian, perkuat ketauhidan kalian, niscaya setiap langkah yang kalian ambil akan penuh energi kebermanfaatan. Bahkan tanpa kita sadari kita sering pula menikmati realitas-realitas hanya sebagai penonton dan lebih parahnya malah menyulut pertikaian yang sebenarnya membutuhkan sumbangsih kita untuk memberikan pencerahan dan solusi. Ingat selalu bahwa sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Juga jangan sampai lupa bahwa semua ini ialah kehendak Yang Maha Kuasa. Bersimpuh hanya pada-Nya, dan mintalah pertolongan serta petunjuk hanya pada-Nya.”

Tak terasa saya sudah bicara begitu banyak. Bahkan tanpa sadar ternyata air mata haru menetes dari mata saya. Rokok saya yang tergeletak di atas asbak hampir habis tanpa saya hisap. Begitu pun anak-anak didik saya yang tadi ramai berdebat, kini tenang mendengarkan, terlihat dengan jelas mata mereka yang juga berkaca-kaca. Saya usap air mata saya, sambil tersenyum kepada mereka semua, saya ambil rokok saya yang hampir habis itu, lalu saya hisap. Tiga hisapan dan saya matikan rokok itu. Mereka masih diam seolah menanti saya mengakhiri apa yang sudah saya mulai tadi. “Senang hati saya rasanya mengetahui kalian masih memiliki jiwa seorang pecinta dan pencari ilmu. Bungah hati saya ketika kalian bisa mendengarkan dengan khusyu’ ucapan-ucapan saya yang belum tentu bisa memuaskan keinginan kalian dalam pembahasan yang tadi kalian perbincangkan. Alangkah indahnya jika semua orang tak hanya pandai berbicara tapi juga mampu mendengar dengan baik. Tidak perlu sekiranya diskusi dipimpin moderator atau fasilitator. Karena kita semua tidak berada dalam kondisi yang anarkis sehingga perlu diatur. Khidmat menjadi suasana yang mewarnai perbincangan-perbincangan, mengalir dengan damai.”

Mereka mulai tersenyum tersipu, mungkin mengingat kelakuannya tadi yang bisa dibilang kekanak-kanakan. Merasa cukup banyak bicara saya mengakhirinya dengan menyilahkan mereka untuk meminum kopi yang sudah mulai dingin itu. Saya tak bisa berkata-kata ketika ternyata mereka malah mendekat kearah saya dan bergantian mencium tangan saya. Guru mana yang tidak teduh hatinya jika diperlakukan demikian. Dalam hati saya terus menerus berdoa kepada Allah, semoga mereka senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Senantiasa dirahmati dan diridhoi. Semakin bermanfaat bagi segala yang haqq. Semoga bangsa ini segera sembuh dari keterpurukannya dengan hadirnya insan-insan unggul yang diridhoi-Nya, semoga mereka termasuk insan-insan tersebut. Aamiin.

Jember, penghujung dhuha di Sabtu Pon

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s