Cerita tentang Kebahagiaan dan Kesedihan

Oleh: Adam Abdullah

Semua orang punya luka, entah nampak entah kasat mata. Di rumah, luka selalu mendapat perhatian bisa jadi hanya sekedar pertanyaan atau perawatan. Hingga seakan-akan tidak ada yang mempunyai luka di rumah. Orang selalu bersimpati dengan luka orang lain sekiranya orang itu berada di rumah. Lucunya, luka selalu bisa disembunyikan di rumah, bahkan itu sering terjadi hingga menjadi sebuah norma; rumah tempat berbahagia.

Di suatu malam, bulan tampak lebih besar daripada biasanya, cahayanya meremang kuning seperti di warung-warung kopi pangku. Beberapa kali awan mencoba menutupi cahayanya yang mengalahkan lampu-lampu jalanan, tapi seketika pula angin menyingkirkannya. Comberan air bekas hujan di lubang-lubang jalan yang jelek seakan ikut menikmati bulan yang tidak biasa. Pantulannya mengingatkan saya dengan mata bulat kecil yang mendambakan gemerlapan cahaya. Pantulan mata yang dimiliki oleh seorang perempuan yang saya kagumi.

Peraturan rumah yang mengharuskan saya pergi keluar, kesedihan saya tidak boleh mempengaruhi penghuni lain. Kegelapan malam tambah mengingatkan saya dengan momen-momen saat kami menghabiskan malam di jalanan. Warna hitam di antara bintik gemerlap bintang serta lampu yang silau tidak juga menghilangkan memori saya yang seharusnya sudah usang. Saya terbayang senyummu yang tak tampak serta kebahagiaan malam dulu yang menurutmu perbuatan setan. Cahaya seperti enggan memerhatikan kami yang berdosa selain cahaya api korek dan bara rokok. Tapi kami tetap berbahagia.

“Bukankah kebahagiaan sangat mudah didapat, lalu untuk apa orang-orang mencarinya sampai mati,” gumam saya. Tapi saya keluar rumah juga untuk mencarinya dan membagikan kepada penghuni rumah. Yang terpenting kebahagiaan ini untuk mengobati kesedihan saya, supaya saya bisa segera kembali ke rumah. “Luka karena perempuan mungkin juga harus diobati dengan perempuan,” seakan kata ini muncul begitu saja dalam pikiran saya. Mungkin ini yang namanya wahyu, saya girang memikirkannya.

Belum lama pikiran itu membahagiakan saya, dalam perjalanan saya bertemu seorang perempuan yang pernah cukup meninggalkan kesan dalam kebahagiaan saya. Sayangnya dia bahkan membuang muka terhadap saya. Saya takut sapaan tidak akan mendapat tanggapan maka saya diam dan berlalu begitu saja.

***

Dia dikenal dengan perempuan yang ceria, senyumnya sangat memikat bagi saya. Kami mengenal beberapa hari sebelum akhirnya kami benar-benar dekat. Keceriaannya yang mengingatkan saya untuk tidak sering keluar rumah untuk mencari kebahagiaan. Saya cukup mendapatkannya dari gambar wajahnya yang lucu dan tulisan-tulisannya yang menghibur.

Sekali waktu, dalam pertunjukan teater dia pernah bercerita tentang kehidupannya. Saya tidak tertarik dengan ceritanya tentang impiannya yang kosong dan pertunjukan yang tidak sempat saya tonton. Saya hanya tertarik dengan wajahnya saat berbicara, pipinya yang cembung beberapa kali naik dan mendesak matanya menjadikannya terlihat sipit. Di tengah pertunjukan yang membosankan kami saling diam, mungkin dia terlalu cepat bercerita hingga ceritanya habis. Beberapa kali dia memberi isyarat pada saya untuk menceritakan sesuatu. Tapi saya tetap diam dan pura-pura tidak memahami isyaratnya. Saya khawatir jika menceritakan sesuatu saat diluar rumah yang keluar hanyalah ungkapan kesedihan. Dia terlihat kecewa malam itu, tapi saya rasa ini adalah hal yang benar.

Beberapa hari setelah malam itu dia tidak lagi mengirimkan tulisannya, hiburan saya hilang, saya tidak bisa terus menyembunyikan kesedihan di rumah, maka saya keluar dari rumah. Di luar, saya tak juga mendapatkan kebahagiaan untuk saya bawa pulang, sebab saya masih juga terbebani perasaan bersalah kepada dia. Hari-hari setelahnya saya lihat dia tidak lagi ceria terhadap saya, tapi iya terhadap orang lain. Saya merasa kebahagiaan saya direnggut oleh orang-orang itu. Apakah hanya sebatas ini kesan yang saya berikan kepadanya terbalas, saya kecewa kebahagiaan bisa hilang begitu cepat dan saya menyesal telah mencarinya selama ini.

***

Jalanan yang rusak tidak memindahkan memori saya dari kenangan-kenangan yang sempat saya lupakan karena kebahagiaan dan kesedihan yang lain. Comberan air yang tergenang dalam lobang jalan muncrat dari roda motor seperti air mancur di taman kota. Saya tidak peduli orang-orang mengumpat karena terkena cipratan itu, saya kesal terhadap semua orang yang menuntut kebahagiaan. Saya pikir semua orang pasti seperti itu, juga orang-orang di rumah, maka saya ciprat saja semuanya. Biar mereka sadar kebahagiaan mereka selama berada di jalan hilang sekejap karena marah terkena comberan air jalan. Biar mereka sadar, sembari saya terus berlalu menjauhi rumah.

*Pernah dimuat di adam-abdullah.blogspot.co.id – Website pribadi penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s