Apaan Sih?!

mno

Oleh: Arif Furqon

Sebagai orang yang sehat kita harus senantiasa bersyukur. Sebagai orang yang sakit kita harus tetap bersyukur. Tatkala kita bukan lagi orang, di situ kita bebas untuk tidak lagi bersyukur. Meski mungkin dewasa ini hampir semua tanggal di kalender kita anggap merah sebagai peringatan hari kebalikan. Yang sakit banyak mengeluh dan yang sehat masih sempat saja menggerutu dengan berbagai dalih, malah yang akalnya konslet senyam-senyum terus. Kewarasan menjadi tolak ukur paling delusif dan naasnya paling masif dipakai dalam kehidupan sosial kita.

Kalau mata dan telinga kita masih normal (benar-benar berfungsi sebagaimana seharusnya/bukan sekedar aksesoris), tentu era digital ini menjadikannya cepat panas karena harus memilah informasi yang luar biasa awut-awutan, tidak jelas mana yang fiktif dan asli. Kalau sudah jadi aksesoris, saya kira bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni nyala dan padam. Nyala dalam artian mata kita melihat atau membaca, telinga kita mendengar, tapi tidak ada software penyaringan informasi dalam perangkat keras tersebut. Misalnya dongeng baru karangan anak SD tentang Malin yang ternyata bukan menjadi batu karena dikutuk oleh ibunya, tetapi karena berusaha melindungi ibunya dari Medusa yang kebetulan berwisata ke Danau Toba, bisa jadi dipercaya sebagai narasi agung YME yang tak terbantahkan. Lalu dengan yakinnya disebarkan ke semua kerabatnya dengan tambahan berupa penekanan “jangan sampai berhenti pada anda! Sampaikan ke semua kontak dan grup anda!” Aksesoris padam maksudnya ialah ia bukan saja mengalami kesalahan instalasi software, melainkan hardware itu sendiri memang tidak berfungsi. Menganggap dunia ini beserta semua tetek-bengeknya tidak penting. Dengan serius menyatakan komitmen one way to heaven.

Kembali ke skala kewarasan, apakah yang keren itu waras dan yang tidak keren cenderung tidak waras? Apakah yang keren itu yang pakek aksesoris, sehingga yang tidak pakek itu kuno? Di antara aksesoris nyala dan padam, mana yang lebih keren? Saya harap pertanyaan dan perumpamaan ekstrim-khayalis di atas membuat kita semakin bisa bersyukur masih bisa berpikir, membaca, atau minimal bisa senyum-senyum sendiri.

Jember, pada interval kokok-kokok ayam     

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s