Ketika Hukum Berbicara Hukuman Mati

Untitled-1

Oleh: Nur Rifqi

Hukuman mati telah menjadi wacana umum untuk dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa ini. Telah ramai diberitakan oleh media cetak maupun elektronik terkait hukuman mati bagi para bandar hingga pengedar narkoba di Indonesia. Hal ini menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Banyak dari mereka mendukung pelaksanaan hukuman mati tersebut, namun tidak sedikit pula dari mereka yang menolak akan hal ini. Isu ini pun telah mendunia setelah pemerintah Indonesia secara tegas menyatakan dan melaksanakan eksekusi hukuman mati bagi para narapidana kasus narkoba, baik warga negara Indonesia maupun terpidana yang berkebangsaan asing.

Setiap orang yang tergerak hatinya untuk membahas lebih lanjut terkait hukuman mati ini memiliki alasan masing-masing. Bagi yang tidak setuju, mereka berdalih hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa mereka, manusia tidak ada sangkut pautnya dengan kehendak Tuhan. Ada juga pihak lain dari kelompok ini yang meminta kepada pemerintah untuk tidak lagi memberlakukan hukuman mati di Indonesia karena hal tersebut sama saja merampas hak seseorang untuk bertobat. Tak ketinggalan juga keterkaitannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadi kartu as dalam pendapat mereka. Dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM, penerapan hukuman mati digolongkan sebagai hukuman yang kejam dan tidak manusiawi. Selain itu HAM juga menganggap hukuman mati sebagai bentuk pelanggaran Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang berbunyi: “Setiap orang mempunyai hak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan seseorang”.

Tapi alasan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Mahkamah Agung (MA). “Hakim dalam menjatuhkan pidana mati tidak melanggar kekuasaan Tuhan sepanjang pemeriksaan perkara dilakukan secara tepat, benar, jujur, objektif dan adil. Judex juris (Pengadilan Negeri-Pengadilan Tinggi) telah menjalankan amanat atau perintah undang-undang. Di negara Republik Indonesia, pidana mati tidak melanggar hukum, konstitusi, UUD 1945 maupun HAM,” putus majelis sebagaimana dikutip dari website MA, Jumat (26/2/2016). Sependapat dengan MA, Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso mengingatkan bahaya yang mengancam Indonesia selain korupsi adalah narkotika. Bila pemberantasan narkoba hanya dilakukan biasa-biasa saja saat ini, maka 20 tahun mendatang Indonesia akan mengalami lost generation. Keresahan ini disampaikan jenderal bintang tiga polisi yang sering disapa Buwas saat berpidato seusai menyaksikan pengucapan dan penandatangan Pakta Integritas Pejabat Pemprov Bengkulu yang digelar di Sport Center di kawasan Pantai Panjang, Kota Bengkulu, Senin (1/3/2016).

Narkoba dalam Hukum Islam

Sebagaimana kita ketahui, terdapat banyak kemudaratan yang terkandung dalam narkoba yang akan berakibat buruk bagi si pemakai, yakni efek buruk bagi tubuh dan akal sekaligus. Tidak hanya itu saja, bahaya obat-obatan terlarang –salah satunya narkoba- juga menyerang nama baik, kedudukan dan kehormatan seseorang di hadapan kalangan masyarakat sekitar. Serta tidak menutup kemungkinan bagi pecandu untuk melakukan berbagai tindak pidana kriminal terhadap jiwa, harta, maupun kehormatan.

Sumbangan terbesar Imam al-Ghazzali terhadap perkembangan teori hukum Islam adalah teori tujuan hukum (maqasid asy-syari’ah). Tujuan hukum adalah perwujudan kemaslahatan, yakni menciptakan manfaat dan menghindari yang merusak. Dengan kata lain, tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasmani, individual dan sosial. Kemaslahatan ini tidak hanya untuk kehidupan dunia ini saja, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal kelak di akhirat. Seiring berkembangnya zaman, Abu Ishaq al-Syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat mengembangkan dan merumuskan teori maqasid asy-syari’ah yang diusung oleh al-Ghazzali menjadi lima tujuan hukum Islam, yakni 1) hifdz ad-din (memelihara agama), 2) hifdz an-nafs (memelihara jiwa), 3) hifdz al-‘aql (memelihara akal), 4) hifdz an-nasb (memelihara keturunan), 5) hifdz al-maal (memelihara harta).

Teori tujuan hukum Islam di atas tentunya bertentangan dengan efek yang ditimbulkan bagi pemakai narkoba. Di mana yang paling mencolok yakni tidak tercapainya hifdz an-nafs juga hifdz al-‘aql serta tidak menutup kemungkinan tidak terwujudnya hakikat tujuan hukum Islam yang lainnya. Melalui teori ini juga dapat kita ambil pemahaman bahwasanya mengonsumsi narkoba itu dilarang oleh agama karena tidak sejalan dengan maqasid asy-syari’ah.

Dari sudut pandang Islam, narkoba merupakan senyawa yang memang tidak dijelaskan secara langsung dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Pada kenyataannya, narkoba memberikan dampak kerusakan baik secara fisik maupun psikologis. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 195, yang artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. Sudah jelaslah bahwa narkoba sebagai alat perusak yang dapat dikategorikan sebagai barang haram karena dapat menjerumuskan bagi pemakainya ke dalam lubang kebinasaan. Mengonsumsinya merupakan sebuah kemaksiatan dan menjual narkoba berarti tolong-menolong dalam kemaksiatan.

Pembahasan di atas sudah menjelaskan bahwasanya mengonsumsi narkoba dilarang oleh aturan agama. Lalu bagaimana dengan pembawa barang tersebut namun tanpa mengonsumsinya? Di sini lah konsep syadz adz-dzari’ah berbicara. Perbuatan (membawa suatu barang) yang asalnya diperbolehkan menurut agama, namun kalau dikerjakan akan menghantarkan kepada suatu kemudaratan yang lebih besar sehingga tidak boleh dilakukan. Istilah praktisnya yakni tindakan preventif terhadap suatu hal yang akan terjadi. Inilah mengapa pembawa narkoba dihukumi sama dengan yang mengonsumsi narkoba.

Hukuman Mati dalam Hukum Islam

Sementara dalam hukum Islam, sanksi pidana yang dapat menyebabkan pelakunya dihukum mati terjadi dalam tiga keadaan. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya, “tidak halal darah seorang muslim kecuali sebab salah satu dari tiga hal: orang yang meninggalkan agamanya, seorang janda/duda berzina dan karena membunuh jiwa.”

Kaidah kelima dalam ilmu ushul fikih pun tidak mau bungkam terkait permasalahan ini, yang artinya: “tindakan imam terhadap rakyat harus dihubungkan dengan kemaslahatan”. Pemerintah di sini sebagai pengayom serta pengemban keberlangsungan hidup rakyatnya. Tindakan dan ketetapan yang ditempuh oleh pemerintah harus sejalan dengan kemaslahatan demi kepentingan umum. Di sinilah pemerintah melalui putusan MA –sebagaimana di atas- menjalankan konsep kaidah ilmu ushul fikih ini, tidak lain hanyalah demi kemaslahatan khalayak umum.

Kita analogikan narkoba sebagai hama pertanian, yang selalu mengganggu dan merusak tanaman. Hama tersebut merupakan biang keladi utama berkurangnya kualitas tanaman yang sedang diproduksi. Di mana hama tersebut haruslah dibasmi karena dianggap sebagai benih penyakit yang datangnya secara terus-menerus, dan diperlukan pemberantasan secara intensif dan berkelanjutan untuk memusnahkannya. Pemakai –juga pembawa- narkoba apabila tidak ‘dibasmi’ maka akan mengakibatkan berkurangnya kualitas pribadi dalam jiwa masyarakat Indonesia dan akan berdampak buruk bagi keberlangsungan generasi muda bangsa mendatang.

Hukum Indonesia –hukum positif Indonesia- dan hukum Islam terdapat harmonisasi dan keserasian hukum yang terkandung di dalamnya, yakni menjaga kemaslahatan umat beragama maupun semangat nasionalisme. Karena keduanya telah mengetahui dan sadar akan bahaya dan tantangan masa depan yang semakin kompleks. Bila tidak dilakukan sedini mungkin, maka akan timbul kemafsadatan yang akan timbul di kemudian hari.

Islam –juga Indonesia- mempunyai peran mewujudkan kemerdekaan yang mutlak dijaga sekuat mungkin. Islam diturunkan langsung oleh Allah SWT sebagai agama yang rahmatan lil alamain. Agama yang sempurna dan membawa kita pada jalan kebenaran. Islam harus menjadi garda dan pionir terdepan demi merawat ke-Indonesia-an.

Semoga hukuman mati yang ditetapkan pemerintah Indonesia menjadi pintu gerbang bagi penegakan hukum yang bijak dan tidak menimbulkan kegoncangan di tanah ibu pertiwi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s