Kisah Lima Sila dan Manusia Hijau

Kisah Lima Sila dan Manusia Hijau

Oleh: Syahrul Ramadhan

Sebagai pemeluk agama dan warga negara tertentu, akan ada dua dasar yang bisa dipakai dalam meniti kehidupan. Pertama, dasar agama. Kedua, dasar negara. Permasalahannya kemudian adalah manakah di antara dua dasar tersebut yang akan diteguhkan sebagai dasar yang lebih awal.

“Mengapa harus memilih?”, mungkin sebagian orang akan langsung mengajukan pertanyaan seperti itu untuk keluar dari masalah. Memang benar, dalam kasus di atas sebenarnya seseorang bisa untuk tidak memilih. Cara paling sederhana adalah dengan membuat dua dasar tersebut menjadi sama, dasar agama adalah dasar negara atau dasar negara adalah dasar agama juga. Keduanya sama.

Namun tetap saja, akan ada yang lebih mendasari di antara dua hal tersebut. Katakanlah pada suatu masa terdapat pahlawan super yang hendak mendirikan negara baru, maka dia harus mendirikan negara tersebut dengan dasar agamanya agar tidak ada pertentangan antara dasar agama dan negara. Berarti, dasar agama yang dimenangkan/dipilih.

Sekali lagi itu cara paling sederhana. Terdapat cara lain yang agak mbulet. Cara tersebut pernah dan sedang diterapkan oleh sebuah kelompok manusia hijau dan telah didokumentasikan (prosesnya) oleh Gus Sholah (Salahuddin Wahid). Dokumentasi tersebut merupakan tulisan opini di surat kabar kompas, entah tanggal berapa, yang jelas tulisan tersebut dimuat dalam buku kumpulan opini kompas berjudul Nahdlatul Ulama, Dinamika Ideologi dan Kenegaraan. Dalam dokumentasi tersebut, diceritakan bahwa para manusia hijau sedang diterpa tuntutan baru dari negaranya.

****

Ketika itu, negara menuntut agar semua perkumpulan manusia di teritorinya menggunakan dasar negara sebagai pijakan awal. Hal itu dilatarbelakangi oleh ketakutan negara jika satu atau beberapa perkumpulan berniat menyaingi sang penguasa negara dan akhirnya merebut kekuasaannya dengan mendasarkan diri pada dasar agama. Semua perkumpulan menjadi riuh, termasuk manusia hijau.

Manusia hijau memang selama ini memakai dasar agama dalam menempuh hari-harinya. Dasar agama telah mengakar dan tidak dapat dipisahkan dari perkumpulannya. Dasar agama pula yang mencikal-bakali terbentuknya perkumpulan manusia hijau. Lantas tiba-tiba datang sebuah titah seperti itu. Manusia hijau pun harus menyikapinya dengan hati-hati.

Setelah mengadakan pertemuan manusia hijau ekspert dan melalui berbagai perdebatan, akhirnya perkumpulan manusia hijau pun menerima dasar negara sebagai pijakan awal perkumpulan mereka. Namun bukan berarti dasar agama dikalahkan dengan hal itu. Perkumpulan hijau mempunyai cara berpikir tersendiri untuk tidak memilih, namun mendamaikan tanpa menyamakan dengan kasar.

****

Cerita di atas merupakan kisah ormas NU pada masa Orde Baru di Indonesia, tepatnya pada tahun 1983. Melalui Munas, NU menanggapi keputusan pemerintah secara positif. Pancasila yang diharuskan menjadi dasar gerakan setiap ormas keagamaan diterima oleh NU dengan lima pola pikir, di antaranya adalah:

Pertama, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukan agama, dan tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Kedua, sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara Republik Indonesia mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dan keislaman. Ketiga, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan wujud upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

Sampai di sini, dapat kita lihat bagaimana NU berusaha mendamaikan agama dan Pancasila dengan cara yang moderat. NU tidak memilih untuk mengalahkan dan memenangkan salah satunya, melainkan membuatnya menjadi identik dan satu nafas. Sebuah penyamaan yang halus dengan peran masing-masing.

Apakah masih ada yang lebih diunggulkan di antara dasar agama dan dasar negara? Sepertinya tidak. Berbeda dengan contoh pahlawan super yang kita bahas di awal tulisan, NU tidak memaksakan salah satu dasar mengalahkan yang lain. Kedua dasar tetap berlaku, dan berjalan bersama. Namun tentunya pemahaman tersebut belum final. Bukankah tidak ada kebenaran absolut dari hasil pemikiran manusia?

Salah satu bukti ketidakfinalan tersebut termuat dalam sebuah buku dialog opini antara Gus Dur dan Gus Sholah tentang Kiai Wahid Hasyim dan Pancasila. Di sana, kedua kakak beradik tersebut berbeda pendapat mengenai konsep yang dituangkan ayah mereka dalam Pancasila. Gus Dur berpendapat bahwa ayah mereka bertujuan mensekulerkan Indonesia dengan adanya Pancasila. Sedangkan Gus Sholah sebaliknya, adanya Pancasila membuktikan bahwa ayah mereka agamis.

Di mana letak ketidakfinalan yang dimaksud? Adalah pandangan Gus Dur dan Gus Sholah itu sendiri yang dapat dijadikan perbandingan. Gus Dur dengan jelas memilih bahwa Pancasila adalah sekuler. Sedangkan Gus Sholah memilih agamis. Bagaimana dengan NU? NU mengakui kedua dasar yang harusnya dipilih.

NU tidak memilih salah satu dasar, agama atau negara. Kedua dasar dirangkul bersamaan. Dengan tidak memilih maka NU sama dengan tidak memposisikan diri, tidak seperti Gus Dur ataupun Gus Sholah. NU tidak memilih untuk sekuler atau agamis. Itu bisa disebut konsekuensi prinsip moderat miliknya, tawassuth. Tak apa. Hal itu tidak menjadi masalah.

Yang kemudian bemasalah adalah bagaimana bentuk praktis dari kemoderatan tersebut. Apakah NU benar-benar dapat memikul dua dasar secara bersamaan dalam segala perilaku? Sepertinya itu mustahil. Buktinya NU harus tetap mengikuti hukum pidana negara daripada hukum pidana agama. Seorang pencuri dihukum menurut hukum positif negara, bukan dipotong tangannya seperti syariat agama. Apakah itu bukan mengalahkan agama dan memenangkan negara?

Tidak hanya itu. Di sisi lain, NU juga mengalahkan negara dan memenangkan agama. Seperti dalam penentuan awal bulan Ramadhan. Banyak orang NU yang tidak menghiraukan keputusan pemerintah (negara) karena kiainya telah mengeluarkan keputusan sendiri. Atau dalam hari libur lembaga pendidikan. Tidak kurang lembaga pendidikan NU (pesantren) yang mengabaikan hari libur nasional jika tidak berhubungan dengan Islam (PHBI).

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa NU mengalami ketidak-konsistenan dasar perilaku. Memenangkan (dasar) negara di suatu hal dan bersamaan dengan itu memenangkan (dasar) agama pada hal lain. Maka, kembali ke bahasan sebelumnya, keputusan NU belum final dalam masalah dasar hidup di Indonesia.

*Pernah dimuat di tebuireng.online – Website Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s