Kue Basah dan Nilai-Nilai

Kue Basah 5

Oleh: Arif Furqon

Lidah kita tidak akan pernah lupa bagaimana nikmatnya lemper, brubi, nogosari, bikang, apem dan berbagai jajanan tradisional lainnya yang tergolong kue basah. Tiga sampai lima kue mungkin sudah cukup membuat kita merasa kenyang. Kue yang empuk, lembut dan kadang agak kenyal serta nyaman di perut ini juga menjadi tradisi kuliner yang masing-masing mengandung berbagai falsafah yang luhur. Kita pasti familiar dengan berbagai jenis kue basah atau jajanan pasar itu. Kecuali lidah kita sejak awal memang diprogram hanya untuk merasai kriuk-kriuk gurih-pedas-manis-asin aneka bentuk jajanan pabrik yang dibalut berbagai zat kimiawi dan rasa haus akan kapital. Atau mungkin sudah terlalu lama lidah kita berpisah dari kue basah tradisional itu sehingga otak kita pun bahkan akan blank hanya karena disuruh menyebutkan nama-namanya.

Tulisan ini sebenarnya tidak akan membahas lebih lanjut ironi yang disebutkan di atas. Melainkan menjadikan kue basah sebagai perumpamaan terhadap konteks kehidupan sosial kita. Kue basah itu yang kita tahu pada umumnya dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga. Atau dalam banyak pengecualian, dibuat oleh siapa pun yang belajar cara membuat dan mempraktikkannya. Kita kembalikan pada ibu-ibu rumah tangga, kita asumsikan mereka sebagai suatu entitas yang hanya dari merekalah kue basah bisa tercipta. Secara kolektif kita akan menemukan ide tentang kue basah yang membagi jenis-jenisnya. Namun masing-masing ibu rumah tangga memiliki ciri khas tersendiri dalam membuat kue basahnya, entah komposisi bahannya atau teknik pembuatannya. Toh meski identik, antara satu kue dengan yang lainnya tidak sama persis, pasti ada yang beda. Dalam skala tertentu kita akan menyebut satu kue “enak” dan yang lain “tidak enak”, tentu setelah kita mencicipinya.

Adapun alasan mengapa kue-kue basah itu masih bisa bertahan dan bisa kita temui dalam momen tertentu (atau bahkan setiap hari jika kita pergi ke pasar) ialah karena secara turun-temurun ia disosialisasikan dari generasi ke generasi. Yang disosialisasikan ialah ide tentang kue basah itu serta kemampuan untuk membuatnya. Perlu dipertegas lagi, yang turun temurun itu bukan kuenya secara fisik. Bayangkan saja kita memakan kue basah yang dibuat oleh mbah buyut kita puluhan tahun silam, pasti lidah kita menjerit kalau harus merasai kue itu, dalam hitungan hari saja kue basah bisa mambu kok. Sebisa mungkin kita makan kue yang masih hangat (baru selesai dimasak). Urusan enak tidaknya kue tersebut kita baru tahu kemudian. Mungkin ada beberapa ibu rumah tangga yang kita percaya bisa membuat kue-kue dengan cita rasa paling maknyus, sehingga tak jarang ia dimintai tolong untuk membuatkan kue dalam skala besar yang nantinya dikonsumsi bukan dalam rangka hajatnya atau keluarganya sendiri.

Kalau kita umpamakan kue basah sebagai nilai-nilai dalam organisasi, ide kue basah adalah substansi nilai sedang kue basah itu sendiri ialah interpretasinya. Sedangkan ibu-ibu rumah tangga itu ialah pegiat atau minimal anggota organisasi. Dari sini sudah bisa terbayang kan, kemana arah pembahasannya? Yup, benar sekali. Kita diharuskan sebisa mungkin bisa membedakan mana ide kue basah dan kue basah yang kita makan secara fisik, mana substansi nilai dan interpretasi. Dalam kondisi yang benar-benar sadar, kita harus mengakui bahwa interpretasi itu sebagaimana kue basah cepat mambu. Lebih lanjut, implementasi nilai-nilai itu pasti sangat dipengaruhi (berasal dari) interpretasi, anggap saja kalau diumpamakan ialah proses mengunyah kue basah. Manfaat yang muncul dari implementasi tersebut nantinya jika dalam perumpamaan kue basah ialah dinamika (pengolahan) yang terjadi di perut kita. Jadi, jangan sampai kita mengunyah dan menelan kue basah yang sudah mambu, kasihan lidah kita yang merasai ke-mambu­-annya, dan perut kita yang harus mules karenanya.

Dari manakah interpretasi tersebut muncul? Hal ini juga patut diperhatikan. Konteks yang benar-benar sedang kita hadapi lah yang menuntut kita melakukan interpretasi. Lebih jelasnya lingkungan tempat kita hidup bersosial atau lahan aktivitas organisasi kita berlangsung lah yang menjadi bahan bakar proses interpretasi tersebut. Kalau diumpamakan kue basah, hal ini merupakan bahan yang diperlukan dalam pembuatannya. Apakah cukup sampai di situ? Tidak. Kapasitas berpikir kita memiliki peran yang cukup signifikan. Akan berbeda hasil interpretasi orang bodoh dengan orang pintar meski lingkungannya sama. Berkaitan dengan kue basah, hal ini bisa kita umpamakan sebagai skill dan teknik pembuatannya. Semakin mahir seseorang, semakin enak pula kue yang ia buat.

Jauh sebelum itu, kejernihan dan keteguhan hati kita lah yang sejak awal menggerakkan dan menentukan bagaimana diri kita menyerap/menangkap realitas yang ada disekitar kita, cara akal kita mengolah realitas tersebut, serta tindakan yang kita ambil setelahnya. Pengesaan kita yang total dan utuh pada Tuhan menjadi sebab utama jernih dan teguhnya hati. Ketulusan dalam penghambaan menampik segala tabir pamrih dan ke-aku-an. Lebih dari sekedar pintar, interpretasi yang muncul dari kita ialah wujud kebijaksanaan. Bisakah kita mengumpamakannya pada kue basah? Cinta. Banyak kisah kita dengar tentang pentingnya sentuhan cinta kasih dalam melakukan apapun, juga ketika kita membuat kue basah. Tak jarang dikatakan bahwa cinta yang benar-benar tulus dari orang yang memasak akan meningkatkan rasa nikmat makanannya.

Terakhir, kalau boleh saya ajukan pertanyaan (mungkin sindiran), sudahkah anda dan orang-orang di organisasi anda bisa membedakan mana ide kue dan kue itu sendiri? Pernahkah anda menyuguhkan atau disuguhi kue basah yang masih hangat dan enak saat dimakan? Atau masihkah anda sering mules karena makan kue yang sudah mambu? Atau perut anda tidak mungkin mules karena terbiasa mengkonsumsinya? Naudzubillah, atau bahkan anda tidak tahu kalau kue yang anda makan sudah mambu?

Jember, (selesai pada) dhuha kesepuluh bulan Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s