Belajar Cara Menghitung Anak

CMA Up

Oleh: Rizkiatul Mufarihah

Judul : Antologi Puisi Cara Menghitung Anak (CMA)
Penulis : Abu Wafa
Penebit : Delima Pustaka
Cetakan : Pertama, 2017
ISBN : 978-602-60352-3-3

Membaca judul buku ini pasti akan menimbulkan banyak tafsir. Cara Menghitung Anak. Sebelum membaca isinya, saya sempat menduga bahwa buku antologi ini akan berbicara tentang seksualitas atau bahkan “kampanye” dua anak cukup. Megingat karya sastra berbau seksualitas saat ini memang sangat komsumtif, seperti yang dipaparkan oleh Marhalim Zaini dalam kolomnya bahwa di awal abad 20, orang-orang tidak merasa asing lagi ketika mendengar nama Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh.

Suatu hari saya pernah iseng membawa buku ini ngampus. Dengan alasan klise, mengatasi rasa bosan. Ketika saya membacanya, ada teman–yang tidak sengaja memperhatikan saya, sebut saja Siti–menyengirkan diri dan merebut secara paksa buku tersebut. “Apa nggak ada cara membuat anak?”, tanyanya memulai canda. Lain Siti, lain pula Geng Smelewew–yang ternyata juga diam-diam menaruh simpati pada buku kuning ini. Suatu ketika mereka menyapaku dan mengintrogasi seperti apa isi buku ini. Setelah puas mendapat jawaban, mereka malah main hitung-hitungan anak, persis seperti yang dituturkan oleh Abu Wafa pada puisi “Cara Menghitung Anak” di buku ini.

Buku ini saya kenal dari cuitan akun twitter seorang teman pegiat Malam Puisi Sidoarjo yang hendak membedahnya. Dari sana rasa penasaran saya mulai timbul hingga akhirnya bisa mendapatkan buku mungil nan meggemaskan ini. Ternyata memang jauh sekali–apa yang pernah saya terawang, setelah saya membaca ulasannya. Pada cover buku, dikatakan bahwa buku ini bercerita tentang dunia anak lewat puisi, bukan sastra seksualitas atau kampanye dua anak cukup.

Setelah menghatamkannya, saya tahu bahwa buku ini memang bercerita tentang dunia anak lewat puisi–tapi bukan puisi anak-anak lho. Dodi Kristanto, pengulas buku ini, mengatakan bahwa puisi Wafa bermain di antara puisi protes sekaligus puisi mbeling. Puisi Wafa tidak sampai jatuh menjadi puisi dengan pengucapan mentah ala puisi protes. Puisi Wafa terhindar dari humor murahan seperti halnya puisi-puisi mbeling tahun 70-an.

Pada puisi Dedaunan, saya teringat bahwa ketika kecil saya sangat kaya—dengan uang dedaunan. Di usia itu cita-cita kami hanya tentara, polisi, guru, atau dokter. Kemarin saya sempat bertanya kepada empat anak kelas II-IV SD yang sering main ke rumah dengan adik saya tentang apa cita-cita mereka. Dari empat anak tersebut, dua anak menjawab dokter, satu anak menjawab guru, dan satu anak menjawab menjadi orang sukses. Ternyata sampai saat ini pun cita-cita anak kecil tidak jauh berbeda dengan masa saya dulu. Di puisi ini diceritakan banyak cita-cita yang tak pernah kita inginkan, seperti penyobek tiket, supir bis, atau masinis. Di kepala anak-anak pasti belum terbayang profesi-prosfesi seperti itu. Benarlah apa yang dikatakan oleh Maman S Mahayana, antologi puisi ini berhasil keluar dari kecenderungan zona aman.

Menurut Gerson Poyk, proses kreatif itu dilandasi oleh momen-momen kunci alias pengalaman yang tak terlupakan. Hal konkret, nyata, dapat diraba dan diindra dengan mata. Abu Wafa menemukan momen kuncinya pada masa kanak-kanaknya. Begitu banyak cerita yang sayang jika dijadikan hanya selayang kangen-kangenan dan kenangan belaka.

Pada puisi Bermimpi, kita punya banyak pertanyaan yang tak semua bisa dijawab oleh orang dewasa. Berikut penggalan puisinya,

tak mudah menjumpai jatuhnya bintang
malah hujan yang datang
ke belakang, aku mengambil ember

menaruhnya di halaman
“mungkin inilah bintang yang terpecah
menjadi air hujan”

lantas aku ke dapur, memasaknya
ibu hampir mencegah, namun
dihalangi ayah
“agar dia tahu rasanya air hujan”

esoknya, aku terbaring di ranjang
ayah menasehati sambil memberi buku
ibu tetap was-was, menanyaiku macam-macam
dalam hati, aku masih yakin
aku menjaring hujan yang salah

Di masa anak-anak, begitu banyak mimpi yang diremehkan oleh orang tua. Hal-hal yang aneh masih dianggap menyimpang dari norma-norma yang ada. Kita masih terlalu dipageri oleh tiang-tiang regulasi yang akhirnya memenjarakan kita; jika kita tidak benar-bener mencoba kabur. Dalam puisi Bermimpi, si anak mencoba kabur dengan cara sedikit kurang ajar yang diciptakan sendiri. Meski tak mengurangi peran vital orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anaknya. Hal ini dibuktikan pada larik /ayah menasehati sambil memberi buku/. Namun, dalam perjalannya si anak tersandung dengan pilihannya sendiri. Dari situlah, si anak sampai pada tahap evaluasi menurut Notoatmodjo. Sehingga, dia akan tahu baik dan buruknya atas jalan yang dipilih, bahkan mampu mencari jalan alternatif lain.

Begitu juga pada puisi Gigi, puisi yang juara banget di hati saya. Puisi ini begitu membumi dengan masyarakat kita. Entah budaya dari mana, kok bisa kalo gigi atas dibuang ke bawah, kalo gigi bawah dibuang ke genteng. Puisi ini memberi kejutan yang tak terduga di akhirnya. Andai saja karya cerpen dan puisi bisa disandingkan. Menurut saya puisi gigi ini sepadan dengan “Sakit Gigi”nya Dewi Lestari. Andai saja.

Unsur pamali saya temui di “Bersandar di Pintu”. Betapa bising banyak orang dewasa yang melarang hal itu. Apalagi perempuan. Katanya bersandar di pintu itu bisa membuat jodoh menjauh, halah don’t take it seriously girl. Sebenarnya, bersandar di pintu itu menghalangi jalan saja. Sama seperti saat kita dilarang menyapu di malam hari. Dahulu ketika zaman nenek moyang kita hidup kan memang masih belum ada lampu, jadi percuma kan kalo menyapu dalam kegelapan. Bukankah begitu?

Abu Wafa begitu sederhana dalam menghidangkan menu puisinya, namun sarat makna dan mengenyangkan. Seperti pada puisi Jatuh Cinta,

“tanyakan ibumu. Ibumu selalu rapi menyimpan kenangan.”
Ibu sekarang di dapur, memeasak untuk makan siang.
“ayahmu lebih tahu. Dia menyimpan kata-kata bentuk mawar untukku dulu.”

sepintas, dari arah ruang tamu
ayah mengedipkan mata ke ibu
aku pura-pura tidak tahu.
cinta adalah kerahasiaan orang dewasa.

Abu Wafa seorang penulis yang mbeling. Dia seperti main-main ketika menulis puisi, bermain dengan kata-kata ringan dan dipadukan dengan cerita sehari-hari (masa lalu) yang tak asing lagi. Tapi ia begitu ciamik melempar imajinasi ke sana-sini. Ya mungkin bagi pembaca puisi amatiran seperti saya akan kesulitan mencerna hanya dengan sekali-dua kali membaca. Puisinya selalu membuka ruang bagi siapapun untuk berpikir.Cara berpikir berbeda inilah yang mengantarkan buku Cara Menghitung Anak (CMA) ini menjadi nominator ajang bergengsi Indonesian Literature Translation Foundation (ILTF) Award 2015.

Menurut Fileski, puisi yang baik adalah puisi yang tetap berpijak pada realita sekalipun membuka ruang untuk berimajinasi. Setelah membaca Manusia Tercipta dan Sembilan, entah narasinya begitu mengejutkan. Di puisi Manusia Tercipta, realitanya dunia anak sungguh rasa penasarannya tinggi dan mulai mencari jawaban apa yang gamblang disampaikan padanya. /“manusia tercipta dari tanah liat”/guru agama menjelaskan di depan kelas/sepulang sekolah/lantas aku ke pengrajinnya/. Dengan racikan mbelingnya, puisi ini ditutup dengan si anak menghamili seorang gadis dengan alasan polosnya /“aku hanya ingin tahu bagaimana manusia tercipta”/. Sepertinya Abu Wafa seorang fiksiminier yang tertunda atau setelah ini, bisa jadi.

Pada puisi Menjelang Kiamat lagi-lagi saya terlempar pada masa lalu. Ketika kecil, saya kerap dihantui oleh kengerian hari kiamat. Saya masih ingat betul saat itu kelas lima SD, setiap saya berangkat ke musholla, saat hendak masuk pintu yang saat itu tak berpintu, tempat itu selalu menyekap saya untuk senantiasa mengingat kiamat, diikuti ketakutan-ketakutan yang berlebihan.

Saya bukan pembaca yang tertib, setelah sampai pada halaman 15. Saya mulai bosan dan melanjutkan membaca mulai dari belakang. Televisi. Rupanya judul ini tidak asing dengan saya, saya juga punya puisi Televisi versi saya. Seperti cinta yang tak pernah salah, begitupun kesedihan yang dipaparkan di puisi ini. Betapa luka seringkali ditopengi dengan kebahagiaan.

Menurut saya, Hikayat Meja bukan puisi yang pas untuk antologi ini, jika memang konsentrasi antologi pada anak-anak. Dugaan saya ketika membaca, puisi ini ditulis dari hasil ngopi pas lagi stuck trus terciptalah puisi ini, ya bisa dikatakan asal-asalan. Dunia anak-anak masih begitu tabu dengan rokok dan kopi, tapi tidak dengan gorengan.

Jika JK Rowling bilang “if you don’t like to read, you haven’t found the right book“. Sepertinya saya menemukan buku yang klik bagi saya. Sebelum ini saya belum pernah membaca antologi puisi sampai selesai. Semoga 30 buah puisi karya abu wafa ini menghampat penciptaan manusia dengan ketidakberperasaan (senselessness)—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang dalam Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003)—manusia yang tidak mampu lagi merasakan dan lahirlah “anak-anak” yang tidak lagi membutuhkan ruang “permainan”, yang membiarkan “ruang bermain” hilang dan tidak berharap lagi menemukan ruang kegembiraan tersebut.

Salam.

*Pernah dimuat di riskiantropus.wordpress.com – Blog pribadi penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s