Sarapan Lebih Penting dari Salat Id

sdf

Oleh: Syahrul Ramadhan

Idul Fitri, hari besar umat Islam. Pada hari itu para muslim saling berucap maaf dan “sama-sama”. Kepada para tetangga dan kerabat, ditebar senyum keramahan penghapus dosa. Rumah-rumah dipersiapkan sedemikian rupa sekiranya layak menerima tamu, segala jenis tamu. Sebelumnya, para perindu kampung halaman telah berbondong-bondong pulang ke kampung halaman dengan tujuan mulia, silaturrahmi.

Hampir setiap agama memang memiliki hari istimewa yang disebut hari raya. Natal milik Kristen (Katolik dan Protestan), Nyepi milik Hindu, Paskah milik Yahudi, dan Idul Fitri milik Islam. Yang terakhir disebut sebenarnya memiliki hari raya lain, Idul Adha. Bedanya, Idul Adha dilakukan untuk memperingati totalitas pengorbanan Ibrahim-Islmail akan kepemilikan pribadi yang sejatinya milik Tuhan. Pengorbanan tersebut berupa uji kesungguhan. Tuhan menguji Ibrahim untuk menyembelih Ismail dan menguji Ismail untuk disembelih Ibrahim. Kedua orang yang kemudian berstatus Nabi tersebut lolos ujian. Maka dispesialkanlah hari itu sebagai hari raya Idhul Adha dengan simbol qurban di dalamnya.

Berbeda dengan Idul Adha, cerita yang melatarbelakangi spesialitas Idul Fitri tidak begitu jamak diketahui. Umumnya, Idul Fitri dianggap sebagai kelahiran kembali seorang muslim setelah bertirakat sebulan dengan puasa. Paska tirakat, seorang muslim akan mendapat predikat suci, fitrah. Akhirnya terbentuklah anggapan bahwa hari raya Idul Fitri merupakan peringatan kefitrahan seseorang, kembali ke fitrah, kembali suci.

Namun terdapat sebuah pandangan lain yang menarik dalam mendeskripsikan Idul Fitri. Dalam suatu kuliah hukum perwakafan, seorang dosen bercerita tentang zakat dan perkembangan kontemporernya sebagai perbandingan wakaf kontemporer. Ketika sampai pada pembahasan zakat fitrah, sang dosen mengatakan “zakat fitrah itu jangan diartikan sebagai zakat penyucian, zakat fitrah adalah zakat untuk sarapan”. Memang, secara bahasa, kata fitrah yang dasar katanya adalah afthara dapat diartikan sebagai sarapan.

“Itulah mengapa zakat fitrah dikeluarkan sebelum hari raya Idul Fitri. Kata fitri di sini seakar dengan fitrah, afthara juga, hari raya sarapan”. Memang benar jika secara fiqh, zakat fitrah tidak boleh dikeluarkan setelah salat Idul Fitri, harus sebelumnya, sunnah pada malam takbiran. “Jika zakat fitrah dikeluarkan setelah salat Id, maka bagaimana bisa digunakan sebagai sarapan?”, kata sang dosen.

Idul Fitri dalam deskripsi sang dosen diartikan secara lateral menurut akar katanya sehingga menghasilkan makna “hari raya sarapan”. Bagi muslim yang kurang beruntung secara ekonomi, disediakan fasilitas zakat fitrah sebagai sumber sarapan. Maka menjadi jelas mengapa mengatur zakat fitrah diwajibkan bagi pemimpin (umara’), agar setiap muslim dapat sarapan pada hari raya Idul Fitri. Tentang muslim yang sudah mumpuni komoditas sarapannya, kurang diprioritaskan mendapat bagian zakat fitrah.

Jadi, sebelum maaf-memaafkan dan senyam-senyum, sudahkah anda sarapan? Sudahkah kerabat anda sarapan? Sudahkah tetangga anda sarapan? Jika belum, sarapanlah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s